What To Know
- Afirmasi positif justru bisa menjadi cara untuk belajar berbicara lebih lembut kepada diri sendiri, tanpa harus memaksa diri terlihat kuat setiap waktu.
- Afirmasi positif adalah kalimat yang diucapkan atau ditulis secara sadar untuk membantu membentuk cara pandang yang lebih suportif terhadap diri sendiri.
Hai Peeps,
Pernah nggak, kamu mencoba mengatakan “aku baik-baik saja”, padahal sebenarnya sedang lelah, kecewa, atau bingung dengan banyak hal? Kadang, kita mengira afirmasi positif berarti harus selalu berpikir baik dan menolak perasaan negatif.
Padahal, afirmasi yang sehat bukan tentang menyangkal realita. Afirmasi positif justru bisa menjadi cara untuk belajar berbicara lebih lembut kepada diri sendiri, tanpa harus memaksa diri terlihat kuat setiap waktu.
Apa Itu Afirmasi Positif?
Afirmasi positif adalah kalimat yang diucapkan atau ditulis secara sadar untuk membantu membentuk cara pandang yang lebih suportif terhadap diri sendiri.
Contohnya seperti:
“Aku sedang belajar.”
“Aku boleh pelan-pelan.”
“Aku tidak harus sempurna untuk mulai.”
“Aku bisa mencoba lagi dengan cara yang lebih baik.”
Dalam psikologi, konsep ini dekat dengan self-affirmation, yaitu proses mengingat kembali nilai, kekuatan, atau hal penting dalam diri agar seseorang lebih mampu menghadapi tekanan. Studi Cascio dan rekan-rekan menjelaskan bahwa self-affirmation membantu seseorang merefleksikan sumber harga diri, seperti nilai-nilai utama yang penting baginya.
Artinya, afirmasi bukan sekadar mengulang kalimat manis. Afirmasi yang baik sebaiknya membantu seseorang kembali terhubung dengan nilai dirinya.
Kenapa Afirmasi Positif Sering Disalahpahami?
Afirmasi positif sering disalahpahami sebagai kewajiban untuk selalu bahagia. Seolah-olah, ketika sedang sedih, kita harus cepat menggantinya dengan kalimat positif.
Misalnya, ketika gagal, kita langsung memaksa diri berkata, “Aku pasti sukses.” Ketika lelah, kita berkata, “Aku harus kuat.” Ketika kecewa, kita berkata, “Semuanya baik-baik saja.”
Padahal, ada kalanya kalimat seperti itu terasa terlalu jauh dari keadaan yang sedang dirasakan. Bukan karena afirmasinya salah, tetapi karena kalimatnya tidak memberi ruang pada emosi yang nyata.
Jika digunakan dengan cara yang kurang tepat, afirmasi justru bisa terasa seperti tekanan baru. Kita jadi merasa bersalah karena belum bisa positif, belum bisa kuat, atau belum bisa melihat sisi baik dari keadaan.
Afirmasi Positif Berbeda dari Toxic Positivity
Afirmasi positif yang sehat berbeda dari toxic positivity.
Toxic positivity adalah kondisi ketika seseorang merasa harus selalu terlihat positif, ceria, atau optimis, bahkan ketika sedang menghadapi masalah yang berat. Dalam situasi seperti ini, emosi negatif sering dianggap sebagai sesuatu yang harus segera ditolak atau disembunyikan.
Padahal, rasa sedih, marah, takut, kecewa, dan lelah juga merupakan bagian dari pengalaman manusia. Emosi tersebut tidak selalu perlu dilawan. Kadang, emosi hanya perlu diakui terlebih dahulu.
Afirmasi positif tidak seharusnya membuat kita menyangkal perasaan. Afirmasi yang sehat justru membantu kita melihat keadaan dengan lebih lembut.
Bukan: “Aku tidak boleh sedih.”
Tetapi: “Aku sedang sedih, dan perasaan ini valid. Aku bisa merawat diriku pelan-pelan.”
Bukan: “Aku harus selalu kuat.”
Tetapi: “Aku boleh lelah, dan aku tetap bisa mencari bantuan.”
Dengan begitu, afirmasi tidak menjadi alat untuk menekan perasaan, tetapi menjadi cara untuk mendampingi diri sendiri.
Baca Juga: Jangan Tunggu Sempurna: Kenapa Perempuan Perlu Berani Melamar Pekerjaan Impian
Kenapa Cara Kita Berbicara kepada Diri Sendiri Penting?
Cara kita berbicara kepada diri sendiri dapat memengaruhi cara kita menghadapi masalah. Jika setiap kali gagal kita langsung menyalahkan diri, maka proses bangkit bisa terasa lebih berat.
Sebaliknya, ketika kita belajar berbicara dengan lebih suportif, kita memberi ruang bagi diri sendiri untuk memahami situasi tanpa terus merasa kurang.
Penelitian Grzybowski dan rekan-rekan terhadap 342 partisipan menemukan bahwa positive self-talk berhubungan positif dengan mindfulness dan self-compassion. Sementara itu, negative self-talk berhubungan negatif dengan keduanya.
Artinya, dialog batin yang lebih suportif dapat membantu seseorang lebih sadar terhadap dirinya dan lebih mampu memperlakukan diri dengan lembut.
Namun, suportif bukan berarti selalu manis. Kadang, kalimat paling membantu bukan “semuanya akan baik-baik saja”, tetapi “hari ini memang berat, tapi aku bisa mulai dari satu langkah kecil.”
Afirmasi yang Sehat Perlu Realistis
Afirmasi positif akan lebih mudah diterima ketika kalimatnya masih terasa mungkin dipercaya.
Jika kamu sedang gagal, kalimat “aku pasti sukses besar” mungkin terasa terlalu jauh. Namun, kalimat “aku bisa belajar dari pengalaman ini” terasa lebih realistis.
Jika kamu sedang insecure, kalimat “aku selalu percaya diri” mungkin terasa tidak jujur. Namun, kalimat “aku sedang belajar merasa lebih nyaman dengan diriku” bisa terasa lebih dekat.
Afirmasi yang realistis tidak memaksa kamu langsung berubah. Ia hanya membantu kamu bergerak sedikit lebih lembut dari tempatmu sekarang.
Penelitian tentang cognitive reframing juga menunjukkan bahwa orang cenderung lebih menyukai respons yang empatik dan spesifik dibanding respons yang terlalu positif. Ini menunjukkan bahwa kalimat yang terlalu manis atau terlalu umum kadang tidak selalu terasa membantu.
Karena itu, afirmasi yang baik sebaiknya tetap jujur, dekat dengan keadaan, dan memberi arah kecil untuk bertumbuh.
Baca Juga: Lipstick Effect: Kenapa Kita Tetap Ingin Membeli Hal Kecil Saat Ekonomi Tidak Pasti?
Cara Menggunakan Afirmasi Positif Tanpa Menyangkal Realita
Afirmasi positif bisa menjadi latihan yang sehat jika digunakan dengan cara yang tepat. Berikut beberapa cara yang bisa dilakukan.
1. Akui Dulu Perasaan yang Sedang Dirasakan
Sebelum memberi kalimat positif kepada diri sendiri, coba akui dulu apa yang sedang kamu rasakan.
Misalnya: “Aku sedang kecewa.”
“Aku sedang takut.”
“Aku sedang lelah.”
“Aku sedang merasa tidak cukup baik.”
Mengakui perasaan bukan berarti menyerah. Justru, ini membantu kamu lebih jujur terhadap keadaan diri sendiri.
Setelah itu, baru tambahkan kalimat yang lebih suportif.
Contoh: “Aku sedang kecewa, dan itu wajar. Aku bisa memberi waktu untuk diriku sebelum mencoba lagi.”
2. Gunakan Kalimat yang Terasa Mungkin Dipercaya
Afirmasi tidak harus terdengar besar. Yang penting, kalimat itu terasa cukup masuk akal untuk kamu terima.
Daripada: “Aku pasti berhasil dalam semua hal.”
Coba: “Aku bisa belajar dari proses ini dan mencoba langkah yang lebih baik.”
Daripada: “Aku tidak pernah takut.”
Coba: “Aku boleh merasa takut, tapi aku tetap bisa mengambil satu langkah kecil.”
Kalimat yang realistis biasanya lebih mudah diterima oleh diri sendiri.
3. Fokus pada Proses, Bukan Hasil Sempurna
Afirmasi yang terlalu fokus pada hasil bisa membuat kita merasa tertekan.
Misalnya: “Aku harus sukses.” “Aku harus menang.” “Aku harus terlihat kuat.”
Akan lebih sehat jika afirmasi diarahkan pada proses.
Contoh: “Aku sedang belajar.” “Aku bisa mencoba satu langkah hari ini.” “Aku tidak harus sempurna untuk mulai.” “Aku boleh berkembang pelan-pelan.”
Dengan begitu, afirmasi tidak membuat kamu merasa harus langsung berhasil. Ia membantu kamu tetap bergerak meskipun belum sepenuhnya siap.
4. Hindari Kalimat yang Membuat Diri Semakin Tertekan
Beberapa kalimat terdengar positif, tetapi sebenarnya bisa membuat diri semakin terbebani.
Misalnya: “Aku harus kuat.” “Aku tidak boleh gagal.” “Aku harus selalu produktif.”
Kalimat seperti ini bisa diganti menjadi lebih lembut.
Contoh: “Aku boleh istirahat tanpa merasa gagal.” “Gagal bukan hal yang menyenangkan, tapi aku bisa belajar dari proses ini.” “Aku tetap berharga meski hari ini tidak produktif.”
Afirmasi yang sehat tidak membuat kamu merasa dikejar. Ia membantu kamu merasa ditemani.
5. Hubungkan Afirmasi dengan Tindakan Kecil
Afirmasi akan lebih kuat jika diikuti dengan langkah nyata.
Misalnya, setelah mengatakan: “Aku bisa mulai dari satu langkah kecil hari ini.”
Kamu bisa melanjutkannya dengan tindakan sederhana, seperti menulis daftar prioritas, mengirim satu lamaran kerja, merapikan kamar, minum air putih, atau mengambil waktu istirahat.
Afirmasi bukan pengganti tindakan. Namun, afirmasi bisa membantu kamu mengumpulkan tenaga untuk mulai bergerak.
Contoh Afirmasi Positif yang Realistis untuk Perempuan
Berikut beberapa contoh afirmasi yang bisa digunakan sesuai kondisi.
Untuk Karier
“Aku tidak harus tahu semuanya untuk mulai belajar.”
“Aku boleh mencoba peluang meski belum merasa sempurna.”
“Penolakan bukan ukuran nilai diriku.”
“Aku bisa berkembang dari pengalaman ini.”
Untuk Quarter Life Crisis
“Aku tidak tertinggal, aku sedang menjalani prosesku.”
“Aku boleh belum punya semua jawaban sekarang.”
“Langkah kecil tetap berarti.”
“Aku tidak harus mengikuti timeline orang lain.”
Untuk Body Confidence
“Tubuhku tidak harus sempurna untuk layak dirawat.”
“Aku sedang belajar merasa nyaman dengan diriku.”
“Aku berharga lebih dari penampilanku.”
“Aku boleh merawat tubuhku dengan cara yang lembut.”
Untuk Hari yang Berat
“Hari ini berat, tapi aku tidak harus melewatinya sendirian.”
“Aku boleh istirahat.”
“Perasaanku valid.”
“Aku bisa pelan-pelan.”
Afirmasi Positif Bukan Tentang Menipu Diri Sendiri
Afirmasi positif bukan tentang berpura-pura tidak punya masalah. Bukan juga tentang memaksa diri untuk selalu bahagia.
Afirmasi yang sehat adalah cara untuk tetap jujur pada realita, tetapi tidak terus-menerus menjatuhkan diri sendiri.
Kamu boleh merasa takut, tetapi tetap belajar berani. Kamu boleh merasa lelah, tetapi tetap layak dirawat. Kamu boleh merasa belum cukup baik, tetapi tetap bisa bertumbuh.
Di situlah afirmasi menjadi lebih bermakna. Bukan sebagai kalimat untuk menutup luka, tetapi sebagai cara untuk menemani diri saat sedang berproses.
Kesimpulan
Afirmasi positif bukan berarti harus selalu baik-baik saja. Afirmasi yang sehat justru memberi ruang untuk mengakui bahwa hidup kadang berat, perasaan negatif itu valid, dan kita tetap bisa berbicara kepada diri sendiri dengan lebih lembut.
Daripada memaksa diri berkata “aku selalu kuat”, kita bisa mulai dengan kalimat yang lebih realistis seperti “aku boleh lelah, dan aku tetap bisa mencari bantuan.” Kalimat seperti ini tidak menyangkal realita, tetapi membantu kita menghadapinya dengan lebih manusiawi.
Jika kamu sedang belajar berbicara lebih baik kepada diri sendiri, kamu tidak harus menjalaninya sendirian. Komunitas perempuan masa depan bisa menjadi ruang aman untuk saling menguatkan, berbagi cerita, dan bertumbuh tanpa harus selalu terlihat baik-baik saja.

