What To Know
- Ada kebutuhan harian yang naik, transportasi yang makin terasa mahal, skincare yang dibeli, sampai ajakan hangout yang kadang bikin dilema antara ikut atau menjaga budget.
- Budget mingguan juga terasa lebih fleksibel karena bisa disesuaikan dengan kondisi dan kebutuhan di minggu tersebut.
Hai peeps,
Pernah nggak, kamu merasa pemasukan sudah diatur sebaik mungkin, tapi tetap saja terasa cepat habis? Ada kebutuhan harian yang naik, transportasi yang makin terasa mahal, skincare yang dibeli, sampai ajakan hangout yang kadang bikin dilema antara ikut atau menjaga budget.
Bagi perempuan Gen Z, kondisi ekonomi yang tidak pasti bisa membuat urusan keuangan terasa lebih menekan. Karena itu, financial self-care menjadi penting: bukan hanya untuk berhemat, tetapi untuk membantu kita merasa lebih tenang, punya kontrol, dan tetap bisa merawat diri sesuai kemampuan.
Kenapa Kondisi Ekonomi Bisa Terasa Berat untuk Perempuan Gen Z?
Kondisi ekonomi yang tidak pasti sering kali terasa dalam kehidupan sehari-hari. Misalnya, harga kebutuhan yang berubah, biaya transportasi yang meningkat, hingga pengeluaran kecil yang kalau dikumpulkan ternyata cukup besar.
Badan Pusat Statistik mencatat inflasi tahunan Indonesia pada Mei 2026 sebesar 3,08% dengan Indeks Harga Konsumen sebesar 111,40. Angka ini menunjukkan adanya kenaikan harga barang dan jasa secara umum, yang pada akhirnya bisa ikut terasa dalam pengeluaran harian.
Selain itu, Reuters melaporkan Bank Indonesia menaikkan suku bunga acuan menjadi 5,50% pada Juni 2026 untuk membantu menstabilkan rupiah yang sempat tertekan. Situasi seperti ini menunjukkan bahwa kondisi ekonomi bisa berubah dan berdampak pada cara masyarakat mengatur uang.
Bagi perempuan Gen Z yang baru mulai bekerja, masih kuliah, merintis usaha, atau sedang belajar mandiri secara finansial, perubahan kecil dalam biaya hidup bisa terasa besar. Apalagi, kebutuhan sehari-hari tetap berjalan, sementara tekanan gaya hidup dari media sosial juga sering ikut memengaruhi keputusan belanja.
Apa Itu Financial Self-Care?
Financial self-care adalah cara merawat kondisi keuangan agar kita bisa mengambil keputusan finansial dengan lebih sadar, tenang, dan sesuai kemampuan.
Financial self-care bukan hanya tentang menahan diri untuk tidak belanja. Lebih dari itu, financial self-care membantu kita mengenali pola pengeluaran, memahami prioritas, membuat batasan, dan membangun rasa aman terhadap uang.
Sederhananya, financial self-care membantu kita bertanya:
“Apakah ini benar-benar aku butuhkan?”
“Apakah keputusan ini sesuai dengan kondisiku sekarang?”
“Apakah aku membeli karena perlu, atau karena stres, FOMO, dan takut ketinggalan?”
Pertanyaan seperti ini penting, terutama ketika banyak hal di sekitar kita mendorong untuk terus membeli, mencoba, atau mengikuti sesuatu yang sedang tren.
Baca Juga: Bukan Cuma Konser, WAR Tiket Juga Mengajarkan Kita tentang Hidup
Kenapa Financial Self-Care Penting untuk Perempuan?
Bagi perempuan Gen Z, keuangan sering kali tidak hanya berkaitan dengan kebutuhan dasar. Ada juga kebutuhan untuk merawat diri, tampil percaya diri, menjaga relasi sosial, belajar skill baru, hingga membangun masa depan.
Namun, di tengah kondisi ekonomi yang tidak pasti, semua kebutuhan tersebut perlu diatur dengan lebih sadar. Bukan karena kita tidak boleh menikmati hidup, tetapi agar kita tidak mengorbankan rasa aman finansial demi mengikuti tekanan sesaat.
OJK dan BPS melalui Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan 2025 menunjukkan bahwa literasi keuangan masyarakat terus menjadi hal penting untuk diperhatikan. Dalam rilis tersebut, indeks literasi keuangan laki-laki disebut masih lebih tinggi dibandingkan perempuan. Artinya, pembahasan mengenai cara memahami dan mengelola uang masih sangat relevan, terutama bagi perempuan yang ingin lebih mandiri secara finansial.
Dengan financial self-care, perempuan bisa belajar bahwa mengatur uang bukan hanya soal angka. Ini juga tentang mengenali diri, memahami batas kemampuan, dan memilih prioritas yang paling sesuai dengan kondisi hidup masing-masing.
Cara Mengelola Keuangan di Tengah Kondisi Ekonomi yang Tidak Pasti
Mengelola keuangan tidak harus langsung sempurna. Kamu bisa memulainya dari langkah kecil yang realistis dan bisa dilakukan secara konsisten.
1. Cek Ulang Pengeluaran Harian
Langkah pertama adalah melihat kembali ke mana uang paling sering keluar.
Coba perhatikan pengeluaran untuk makan, transportasi, skincare, kuota, langganan aplikasi, belanja online, kopi, atau ajakan hangout. Kadang, pengeluaran kecil yang terasa “nggak seberapa” justru menjadi besar ketika dihitung selama satu bulan.
Dengan mengetahui pola pengeluaran, kamu bisa lebih mudah melihat bagian mana yang perlu dikurangi, ditunda, atau tetap dipertahankan.
2. Buat Budget Mingguan
Budget bulanan sering terasa terlalu jauh dan sulit dikontrol. Karena itu, perempuan Gen Z bisa mulai dari budget mingguan.
Misalnya, tentukan batas untuk makan, transportasi, self-care, hiburan, dan kebutuhan pribadi dalam satu minggu. Dengan cara ini, kamu bisa lebih cepat sadar jika pengeluaran mulai melewati batas.
Budget mingguan juga terasa lebih fleksibel karena bisa disesuaikan dengan kondisi dan kebutuhan di minggu tersebut.
3. Pisahkan Kebutuhan, Keinginan, dan Tekanan Sosial
Tidak semua pengeluaran berasal dari kebutuhan. Ada yang memang dibutuhkan, ada yang sekadar diinginkan, dan ada juga yang muncul karena tekanan sosial.
Misalnya, ikut nongkrong karena memang ingin bertemu teman tentu berbeda dengan ikut karena takut dianggap tidak seru. Membeli skincare yang cocok untuk kebutuhan kulit juga berbeda dengan membeli produk baru hanya karena sedang viral.
Dengan membedakan tiga hal ini, kamu bisa lebih sadar saat mengambil keputusan finansial.
4. Kurangi Impulsive Buying
Impulsive buying sering terjadi ketika kita membeli sesuatu tanpa banyak pertimbangan. Biasanya muncul karena diskon, stres, FOMO, atau melihat orang lain membeli hal yang sama.
Sebelum checkout, coba beri jeda. Tunggu beberapa jam atau beberapa hari. Jika setelah itu kamu masih merasa barang tersebut penting, sesuai budget, dan memang dibutuhkan, keputusan belinya bisa lebih dipertimbangkan.
Jeda kecil seperti ini bisa membantu menghindari penyesalan setelah membeli.
5. Mulai Dana Darurat Kecil
Dana darurat sering terdengar berat karena terasa harus langsung besar. Padahal, kamu bisa memulainya dari nominal kecil sesuai kemampuan.
Misalnya, menyisihkan Rp10.000, Rp20.000, atau jumlah lain secara rutin. Yang penting bukan langsung besar, tetapi membangun kebiasaan untuk menyiapkan ruang aman dalam keuangan.
Dana darurat dapat membantu ketika ada kebutuhan mendadak, seperti biaya kesehatan, perbaikan kendaraan, atau pengeluaran tak terduga lainnya.
6. Evaluasi Langganan dan Pengeluaran Tetap
Coba cek kembali aplikasi, membership, cicilan, atau layanan yang dibayar setiap bulan.
Apakah semuanya masih benar-benar digunakan? Apakah ada langganan yang jarang dibuka? Apakah ada pengeluaran tetap yang sebenarnya bisa dihentikan sementara?
Mengurangi satu atau dua pengeluaran tetap yang kurang penting bisa memberi ruang lebih pada budget bulanan.
7. Cari Alternatif Self-Care yang Lebih Ramah Budget
Financial self-care bukan berarti berhenti merawat diri. Kamu tetap boleh melakukan hal yang membuat diri merasa baik, tetapi caranya bisa disesuaikan dengan kondisi.
Self-care tidak harus selalu berupa belanja, treatment mahal, atau nongkrong di tempat fancy. Bisa juga dengan journaling, olahraga ringan, membaca, memasak sendiri, quality time di rumah, belajar skill baru, atau bertemu teman dengan budget yang disepakati.
Dengan begitu, kamu tetap bisa merawat diri tanpa membuat keuangan terasa semakin berat.
Financial Self-Care Bukan Berarti Pelit pada Diri Sendiri
Banyak orang mengira mengatur uang berarti harus selalu menahan diri. Padahal, financial self-care bukan tentang menghukum diri sendiri.
Financial self-care justru membantu kita menikmati sesuatu dengan lebih sadar. Kita tetap boleh membeli hal yang disukai, hangout dengan teman, atau merawat diri, selama keputusan tersebut tidak mengorbankan kebutuhan utama dan rasa aman finansial.
Bagi perempuan Gen Z, ini penting karena hidup bukan hanya soal bertahan, tetapi juga tentang bertumbuh. Namun, pertumbuhan yang sehat tetap perlu diiringi dengan kesadaran terhadap kondisi diri sendiri.
Kesimpulan
Kondisi ekonomi yang tidak pasti mungkin tidak selalu bisa kita kendalikan. Namun, cara kita meresponsnya bisa mulai dibangun dari kebiasaan kecil, seperti mencatat pengeluaran, membuat budget mingguan, mengurangi pembelian impulsif, dan mulai menyiapkan dana darurat.
Bagi perempuan Gen Z, mengelola keuangan adalah bagian dari self-development. Bukan karena harus selalu sempurna dalam mengatur uang, tetapi karena kesadaran finansial dapat membantu kita merasa lebih aman, mandiri, dan punya kontrol atas pilihan hidup.

