Kenapa Perempuan Bisa Merasa Tertinggal di Usia 20-an?

What To Know

  • Ada yang bisa fokus membangun karier, tetapi ada juga yang perlu membagi energi untuk membantu keluarga, mengurus rumah, atau merawat orang lain.
  • Pada penelitian UN Women dijelaskan bahwa pekerjaan perawatan dan domestik yang tidak dibayar masih lebih banyak dilakukan oleh perempuan.

Pernah nggak, kamu melihat teman seumuran sudah punya karier yang stabil, menikah, melanjutkan pendidikan, atau berhasil mencapai sesuatu yang besar, lalu mulai bertanya, “Kok aku masih di sini-sini saja?”

Memasuki usia 20-an memang sering terasa membingungkan. Di satu sisi, kita diminta mulai mandiri dan menentukan masa depan. Namun, di sisi lain, kita mungkin masih belum benar-benar tahu kehidupan seperti apa yang ingin dijalani.

Kenapa Usia 20-an Terasa Penuh Tekanan?

Usia 20-an merupakan masa transisi dari remaja menuju kehidupan dewasa. Pada fase ini, seseorang mulai berhadapan dengan banyak keputusan penting, seperti pekerjaan, hubungan, finansial, tempat tinggal, hingga tujuan hidup.

Sebuah systematic review tentang quarter life crisis menjelaskan bahwa masa dewasa awal dapat disertai perasaan kehilangan arah, takut, tidak berdaya, serta penilaian negatif terhadap diri sendiri. Kondisi tersebut dapat dipengaruhi oleh harapan pribadi maupun tekanan dari lingkungan.

Karena banyak hal datang dalam waktu yang hampir bersamaan, tidak heran jika seseorang merasa harus segera menemukan semua jawaban. Padahal, memahami diri dan menentukan arah hidup merupakan proses yang membutuhkan waktu.

Kenapa Perempuan Bisa Merasa Lebih Tertinggal?

Rasa tertinggal sebenarnya bisa dialami siapa saja. Namun, bagi sebagian perempuan, perasaan ini dapat terasa lebih berat karena keberhasilan sering dinilai dari banyak arah sekaligus.

Perempuan tidak hanya ditanya mengenai pendidikan dan karier. Mereka juga kerap berhadapan dengan pertanyaan tentang hubungan, pernikahan, anak, penampilan, hingga kesiapan menjalankan peran keluarga.

Ketika karier belum stabil, perempuan bisa dianggap kurang serius mempersiapkan masa depan. Namun, ketika terlalu fokus pada karier, ada juga yang mempertanyakan kapan menikah atau memulai keluarga.

Akibatnya, apa pun pilihan yang diambil terkadang masih terasa belum cukup.

Setiap Perempuan Memiliki Timeline yang Berbeda

Rasa tertinggal sering muncul ketika kita menganggap semua orang harus mencapai hal yang sama pada usia tertentu.

Padahal, dua perempuan yang sama-sama berusia 25 tahun bisa berada dalam fase kehidupan yang sangat berbeda. Ada yang sedang membangun karier, melanjutkan pendidikan, menikah, merawat keluarga, memulai usaha, atau masih mencoba memahami dirinya sendiri.

Perjalanan menuju kedewasaan tidak hanya ditentukan oleh angka usia. Kemandirian, pengalaman, tanggung jawab, kondisi keluarga, dan kesempatan yang dimiliki setiap orang juga ikut membentuk proses tersebut.

Karena itu, pencapaian orang lain tidak selalu bisa digunakan sebagai ukuran untuk menilai perkembangan diri sendiri.

Media Sosial Membuat Hidup Orang Lain Terlihat Lebih Cepat

Media sosial membuat kita lebih mudah mengetahui pencapaian orang lain. Dalam satu hari, kita bisa melihat unggahan tentang pekerjaan baru, kelulusan, pernikahan, rumah pertama, hingga perjalanan ke berbagai tempat.

Masalahnya, media sosial lebih sering memperlihatkan hasil daripada proses.

Kita mungkin melihat seseorang berhasil mendapatkan pekerjaan impian, tetapi tidak melihat berapa kali ia pernah ditolak. Kita melihat foto pernikahan yang bahagia, tetapi tidak mengetahui perjalanan dan tantangan di baliknya.

Akibatnya, hidup orang lain terlihat lebih rapi, cepat, dan terarah. Sementara itu, hidup kita sendiri terasa berantakan karena kita mengetahui setiap keraguan dan kegagalan yang terjadi di dalamnya.

Padahal, membandingkan kehidupan lengkap kita dengan potongan terbaik kehidupan orang lain tentu bukan perbandingan yang adil.

Baca Juga: Cara Berhenti Menjadi People Pleaser Tanpa Merasa Bersalah

Ada Beban Perempuan yang Tidak Selalu Terlihat

Tidak semua perempuan memulai perjalanan dari kondisi yang sama. Ada yang bisa fokus membangun karier, tetapi ada juga yang perlu membagi energi untuk membantu keluarga, mengurus rumah, atau merawat orang lain.

Pada penelitian UN Women dijelaskan bahwa pekerjaan perawatan dan domestik yang tidak dibayar masih lebih banyak dilakukan oleh perempuan. Kondisi ini dapat memengaruhi kemampuan perempuan untuk masuk, bertahan, dan berkembang di dunia kerja.

Apalagi menurut UN Women di Indonesia terdapat sekitar 1,7 juta perempuan berusia 20–24 tahun pernah keluar dari pekerjaan karena pernikahan atau kelahiran anak.

Data tersebut menunjukkan bahwa perjalanan perempuan tidak hanya dipengaruhi oleh kemampuan dan kerja keras. Ada tanggung jawab sosial maupun keluarga yang juga dapat memengaruhi arah karier dan kecepatannya dalam mencapai tujuan.

Jadi, ketika seorang perempuan terlihat berjalan lebih lambat, belum tentu ia kurang berusaha. Bisa jadi, sebagian energinya digunakan untuk mengerjakan tanggung jawab yang tidak terlihat oleh orang lain.

Rasa Tertinggal Bukan Berarti Kamu Gagal

Merasa tertinggal tidak selalu berarti hidupmu benar-benar tertinggal. Bisa jadi, kamu hanya sedang membandingkan prosesmu dengan hasil akhir orang lain.

Ada masa ketika perkembangan hidup tidak terlihat jelas. Kamu mungkin belum mendapatkan pekerjaan baru, belum menemukan pasangan, atau belum punya pencapaian besar. Namun, bukan berarti tidak ada pertumbuhan yang sedang terjadi.

Belajar menetapkan batasan, memahami kebutuhan diri, berani mencoba hal baru, atau meninggalkan lingkungan yang tidak sehat juga merupakan bentuk perkembangan.

Tidak semua pertumbuhan hadir dalam bentuk jabatan, penghasilan, hubungan, atau pencapaian yang bisa dipamerkan. Ada proses yang berjalan secara perlahan dan hanya bisa dirasakan oleh diri sendiri.

Cara Menghadapi Rasa Tertinggal di Usia 20-an

Rasa tertinggal tidak harus dihilangkan dalam satu malam. Namun, kamu bisa menghadapinya secara perlahan melalui beberapa cara berikut.

1. Kenali Sumber Tekanannya

Coba tanyakan kepada diri sendiri, apakah target yang sedang kamu kejar benar-benar berasal dari keinginan pribadi atau hanya karena melihat orang lain sudah mencapainya?

Mengenali sumber tekanan dapat membantu membedakan antara tujuan yang benar-benar penting dan tuntutan yang sebenarnya tidak perlu diikuti.

2. Kurangi Kebiasaan Membandingkan Diri

Membandingkan diri sesekali mungkin sulit dihindari. Namun, kamu bisa mulai membatasi konten atau akun yang terus membuatmu merasa kurang.

Gunakan media sosial untuk mencari inspirasi dan informasi, bukan sebagai alat untuk menentukan seberapa berhasil hidupmu.

3. Fokus pada Langkah Kecil

Kamu tidak harus menemukan semua jawaban sekaligus. Mulailah dari satu langkah kecil yang bisa dilakukan sekarang.

Misalnya, memperbarui CV, mengikuti kelas, menabung secara rutin, membangun portofolio, atau meluangkan waktu untuk mengenali tujuan diri.

Langkah kecil yang dilakukan secara konsisten tetap dapat membawa perubahan besar.

4. Hargai Proses yang Sudah Dijalani

Coba lihat kembali apa saja yang sudah berhasil kamu lewati. Mungkin hasilnya belum sesuai harapan, tetapi kamu sudah belajar, bertahan, dan berkembang dari pengalaman tersebut.

Menghargai proses bukan berarti berhenti berusaha. Hal ini justru membantu kita melanjutkan perjalanan tanpa terus menyalahkan diri sendiri.

5. Bangun Support System yang Sehat

Kajian mengenai quarter life crisis menunjukkan bahwa dukungan sosial dan hubungan yang sehat dengan lingkungan dapat membantu seseorang menghadapi krisis pada masa dewasa awal.

Support system tidak selalu harus memberikan solusi. Terkadang, memiliki ruang untuk bercerita tanpa dibandingkan atau dihakimi sudah cukup untuk membuat proses terasa lebih ringan.

Baca Juga: Well Dressed, Well Confidence: Saat Fashion Menjadi Bagian dari Self-Development

Kesimpulan

Merasa tertinggal di usia 20-an bukan berarti kamu gagal menjalani hidup. Fase ini memang penuh dengan perubahan, pilihan, dan tekanan untuk segera memiliki masa depan yang jelas.

Bagi perempuan, tekanan tersebut bisa datang dari banyak arah, mulai dari karier, hubungan, keluarga, hingga tanggung jawab yang tidak selalu terlihat. Karena itu, perjalanan setiap perempuan tidak bisa dinilai hanya dari usia atau pencapaian yang tampak dari luar.

Kamu tidak harus memiliki semua jawaban sekarang. Jika perjalanan terasa berat, bergabung dengan komunitas perempuan dapat menjadi ruang aman untuk bercerita, saling mendukung, dan bertumbuh bersama.
Sebab terkadang, yang kita butuhkan bukan hidup yang lebih cepat, tetapi teman yang membantu kita percaya bahwa proses ini tetap berarti.