Cara Berhenti Menjadi People Pleaser Tanpa Merasa Bersalah

What To Know

  • Dalam sebuah studi tentang people pleasing dari penelitian dari Springer Nature, kebiasaan ini dijelaskan sebagai kecenderungan untuk memprioritaskan kebutuhan dan tujuan orang lain di atas kebutuhan diri sendiri.
  • Sehingga, Jika kita mencari artikel ilmiah sering membahas tentang dampak kesehatan mental dari seorang people pleasing yaitu orang dengan kecenderungan memiliki dorongan untuk membuat orang lain senang dan mendapatkan penerimaan, salah satunya dengan memenuhi ekspektasi orang lain.

Hai Peeps…..

Pernah nggak sih, kamu sudah merasa lelah, tapi tiba-tiba ada orang yang meminta bantuan?

  • Kamu ingin menolak, tapi rasanya tidak enak.
  • Takut dianggap tidak peduli.
  • Takut membuat orang lain kecewa.

Akhirnya, kata “iya” tetap diucapkan, meskipun sebenarnya diri sendiri sedang butuh istirahat.

Kondisi seperti ini sering dikaitkan dengan people pleasing. Menurut Cleveland Clinic, people pleaser digambarkan sebagai seseorang yang berusaha membuat orang lain bahagia, bahkan ketika kesejahteraan dirinya sendiri harus dikorbankan.

Sayangnya, kebiasaan ini sering tidak disadari. Awalnya terlihat seperti bentuk kebaikan, tapi lama-lama bisa membuat seseorang terbiasa mengabaikan kebutuhan dirinya sendiri. Lalu, bagaimana cara tahu kalau kita sedang terjebak dalam people pleasing?

Apa Itu People Pleasing?

People pleasing adalah kebiasaan untuk terus berusaha menyenangkan orang lain, bahkan ketika diri sendiri sebenarnya merasa keberatan, lelah, atau tidak nyaman.

Dalam sebuah studi tentang people pleasing dari penelitian dari Springer Nature, kebiasaan ini dijelaskan sebagai kecenderungan untuk memprioritaskan kebutuhan dan tujuan orang lain di atas kebutuhan diri sendiri.

Itu artinya, perhatian yang diberikan kepada orang lain bisa menjadi tidak seimbang ketika kebutuhan pribadi terus-menerus dikesampingkan.

Biasanya, hal ini ditunjukkan melalui kebiasaan sulit berkata “tidak”, takut mengecewakan orang lain, sampai merasa bersalah saat memprioritaskan diri sendiri.

Selain itu, pembahasan tentang people pleasing juga sering dikaitkan dengan keinginan untuk diterima dan disukai.

Sehingga, Jika kita mencari artikel ilmiah sering membahas tentang dampak kesehatan mental dari seorang people pleasing yaitu orang dengan kecenderungan memiliki dorongan untuk membuat orang lain senang dan mendapatkan penerimaan, salah satunya dengan memenuhi ekspektasi orang lain.

Secara sederhana, people pleasing bukan hanya tentang menjadi baik. Kebiasaan ini juga bisa menjadi tanda bahwa batasan diri mulai sulit dijaga.

Kenapa Banyak Perempuan Sulit Bilang “Tidak”?

Tahukah kamu, berdasarkan survei YouGov, perempuan lebih banyak mengidentifikasi dirinya sebagai people pleaser dibanding laki-laki. Sebanyak 56% perempuan mengatakan dirinya termasuk people pleaser, sementara laki-laki berada di angka 42%.

Hal ini menunjukkan bahwa sulit berkata “tidak” bukan sekadar soal karakter pribadi. Tetapi, dalam banyak situasi, perempuan sering terbiasa menjaga perasaan orang lain, sehingga menolak permintaan bisa terasa seperti sesuatu yang salah, tidak sopan, atau mengecewakan.

Tanda Kamu Mulai Menjadi People Pleaser

Mungkin kamu perlu mulai lebih aware kalau sering menemukan tanda berikut:

  • kamu sering mengatakan “iya” padahal keberatan
  • merasa tidak enakan untuk menolak
  • takut dianggap buruk oleh orang lain
  • sering kelelahan secara emosional
  • lebih sibuk menyenangkan orang lain daripada mendengarkan diri sendiri

Kalau terus dilakukan, people pleasing bisa membuat kita kehilangan energi, identitas diri, bahkan merasa kosong.

Berhenti Menjadi People Pleaser Bukan Berarti Berubah Jahat

Ini yang sering disalahpahami.

Belajar menetapkan batasan bukan berarti kamu tidak peduli.

Kamu tetap bisa menjadi pribadi yang baik tanpa harus selalu mengorbankan diri sendiri.

Karena kebaikan yang sehat juga membutuhkan batas.

Cara Berhenti Menjadi People Pleaser

1. Belajar Memberi Jeda Sebelum Menjawab

Kamu tidak harus langsung mengatakan “iya”.

Tapi coba biasakan berkata:

“Aku pikir-pikir dulu ya.”

Jeda kecil bisa membantu kamu mendengarkan kebutuhan diri sendiri sebelum memprioritaskan orang lain.

2. Sadari Bahwa Kamu Tidak Bertanggung Jawab atas Semua Perasaan Orang

Tidak semua orang akan selalu senang dengan keputusan yang diambil dan itu normal.

Menolak ajakan, permintaan, atau sesuatu yang membuatmu tidak nyaman bukan berarti kamu orang jahat.

3. Mulai Tetapkan Batasan Diri

Batasan bukan membuat hubungan jadi jauh.

Justru batasan membantu hubungan menjadi lebih sehat.

Karena kamu berhak menjaga waktu, energi, dan kesehatan mentalmu sendiri.

4. Berhenti Mencari Validasi dari Semua Orang

Kamu tidak harus disukai semua orang untuk menjadi berharga kok.

Sebab kadang kita terlalu takut mengecewakan orang lain sampai lupa bahwa diri sendiri juga perlu diperhatikan.

5. Latih Diri Mengatakan “Tidak” dengan Tegas dan Sopan

Kamu tidak perlu memberikan penjelasan panjang untuk menolak sesuatu.

Cukup sederhana dan jujur:

  • “Maaf, aku belum bisa bantu sekarang.”
  • “Aku lagi butuh waktu untuk diriku sendiri.”
  • “Terima kasih sudah ngajak, tapi kali ini aku pass ya.”

Ingat, Kamu Juga Penting! 

Menjadi perempuan yang baik tidak harus selalu mengalah.

Kamu tetap berharga meski tidak selalu berkata “iya”.

Karena pada akhirnya, self developmentselself development bukan cuma tentang berkembang untuk orang lain, tapi juga belajar menghargai diri sendiri.

Dan kadang, langkah pertama untuk mencintai diri sendiri dimulai dari keberanian mengatakan:

“Tidak.”